Sabtu, 19 Mei 2012

Kepemimpinan Pemerintah


PENGERTIAN KEPEMIMPINAN

Beberapa pakar telah memberikan definisi yang berbeda tentang kepemimpinan, antara lain:
Menurut C. N Cooley ( 1902)
The leader is always the nucleus or tendency, and on the other hand, all social movement, closely examined will be found to concist of tendencies having such nucleus.
Maksudnya pemimpin itu selalu merupakan titik pusat dari suatu kecenderungan, pada kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau diamati secara cermat akan ditemukan kecenderungan yang memiliki titik pusat.
Kepemimpinan adalah suatu proses saling mendorong melalui keberhasilan interaksi dari perbedaan individu, mengontrol daya manusia dalam mengejar tujuan bersama. Dalam buku karangan Prof. Dr. Sudarwan Danim yang berjudul “Motivasi Kepemimpinan&Efektivitas Kelompok”, menyebutkan beberapa definisi kepemimpinan. Mc Farland (1978) dalam Sudarwan Danim (2004:55) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana pimpinan dilukiskan akan memberi perintah/pengaruh, bimbingan/proses mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih&mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi kepemimpinan merupakan sebuah fenomena yang universal, dan merupakan fenomena yang kompleks sehingga tidak ada satu definisi kepemimpinan yang dapat dirumuskan secara lengkap untuk mengabstraksikan perilaku sosial/interaksi manusia di dalam organisasi.

A.     TEORI KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
a.       Teori Otokratis dalam Kepemimpian Pemerintahan
Teori otokratis adalah teori bagaimana seorang pimpinan pemerintahan dalam menjalankan tugasnya bekerja tanpa menerima saran dari bawahan, perintah diberikan dalam satu arah saja artinya bawahan tidak diperkenankan membantah, mengkritik, bahkan bertanya.
b.      Teori sifat dalam kepemimpinan pemerintahan
Teori sifat adalah teori yang mengatakan bahwa kepemimpinan tercipta dari seseorang berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki seseorang tersebut, berarti yang bersangkutan sudah sejak lahir memiliki ciri-ciri untuk menjadi pemimpin.

c.       Teori Manusiawi dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Teori ini adalah teori yang pemimpinnya benar-benar merasakan bawahannya (baik rakyat maupun staf) sebagai manusia yang dapat dimotivasi kebutuhannya sehingga menimbulkan kepuasan kerja, untuk itu teori ini berkaitan dengan teori motivasi.
d.      Teori Perilaku Pribadi
Teori ini merupakan teori dimana pemimpin melakukan pendekatan pada bawahan melalui cara-cara formal yang tidak resmi, dengan begitu perintah biasanya dilakukan secara lisan dan bukan tertulis.
e.       Teori lingkungan
Teori ini memperhitungkan ruang dan waktu, berbeda dengan teori sifat yang mengatakan pemimpin itu dilahirkan (leader is born) maka dalam teori ini pemimpin dapat dibentuk. Yang dimaksud dengan ruang adalah tempat lokasi pembentukan pemimpin itu berada, misalnya diwaktu kecelakaan pesawat maka pilot begitu dibutuhkan, disuatu lokasi kerumunan masa maka seseorang yag bersuara keras akan dapat lebih didengar. Yang disebut dengan waktu adalah saat yang tepat ketika bentukan pimpinan pemerintahan itu terjadi atau dipertahankan, misalnya di Irak yang sering melakukan invansi atau diserbu pihak lain maka rakyat membutuhkan seorang pemberani seperti Saddam Husain untuk cukup lama jadi presiden.
f.        teori situasi
teori ini merupakan teori dimana pemimpin memanfaatkan situasi dan kondisi bawahannya dalam kepemimpinannya yaitu dengan memperhatikan dukungan (supportif) dan pengarahan.
g.       Teori pertukaran
Teori pertukaran dalam kepemimpinan pemerintahan adalah teori dimana pemimpin pemerintahan dalam mempengaruhi bawahnnya memakai strategi take and given yaitu sebagai berikut:
Ketika atasan hendak memberikan perintah maka selalu diutarakan bahwa bila berhasil akan dinaikkan gaji, atau sebaliknya sebelum penerimaan suatu honor lalu pemimpin mengutarakan bahwa selayaknya bawahan bekerja lebih rajin, dengan demikian akan menjadi bawahan yang tahu diri.


h.       Teori Kontingensi
Adalah teori yang berpatokan pada tiga hal yaitu hubungan atasan dengan bawahan (leader member relation), struktur/orientasi tugas (task struktur) dan posisi/wibawa pemimpin (leader position power) yang dikemukakan oleh Fred Fiedler (1976) dalam bukunya A Theory of Leadership Effective.
Dr. Kartini Kartono dalam bukunya “Pemimpin dan Kepemimpinan” juga menyebutkan macam-macam teori kepemimpinan seperti diatas. Akan tetapi Dr. Kartini Kartono menambahkan beberapa macam teori yaitu teori psikologis, teori sosiologis, teori suportif, dan teori laissez faire. Teori psikologis menyatakan bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk merangsang kesediaan bekerja dari para pengikut dan anak buah.
Teori sosiologis menyatakan bahwa kepemimpinan dianggap sebagai usaha untuk melancarkan antar relasi&menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya, agar tercapai kerjasama yang baik. Teori suportif menyatakan bahwa para pengikut harus sekuat mungkin&bekerja dengan penuh gairah, sedang pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui policy tertentu. Sedangkan teori laissez faire menyatakan bahwa pemimpin laissez faire pada intinya bukanlah pemimpin yang sebenarnya. Pemimpin laissez faire ditampilkan oleh “ketua dewan” yang sebenarnya tidak becus mengurus dan dia menyerahkan semua tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahan/semua anggotanya. Beliau tidak mencantumkan teori lingkungan, teori pertukaran dan teori kontingensi.
Sedangkan Prof. Drs. S. Pamudji, MPA dalam bukunya yang berjudul “Kepemimpian Pemerintahan di Indonesia” hanya mengemukakan teori-teori kepemimpinan yang dianggap penting saja yaitu teori serba sifat (traits theory), teori lingkungan (environmental theory),(personal-situational theory), teori interaksi dan harapan (interaction-expectation theory) teori humanistik (humansitic theory), dan teori tukar menukar (exchange theory.) teori pribadi dan situasi
B.     GAYA KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
1.      gaya demokratis
Adalah cara dan irama seseorang pemimpin dalam menghadapi bawahan dan masyarakatnya dengan memakai metode pembagian tugas secara merata dan adil, kemudian pemilihan tugas tersebut dilakukan secara terbuka, antar bawahan dianjurkan berdiskusi tentang keberadaannya untuk membahas tugasnya, baik bawahan yang teredah sekalipun boleh meyampaikan saran serta diakui haknya, dengan demikian dimiliki persetujuan dan konsensus atas kesepakatan bersama.
2.      gaya birokratis dalam kepemimpinan pemeritahan
gaya birokratis adalah cara dan irama seorang pemimpin dalam menghadapi bawahan dan masyarakatnya dengan memakai metode tanpa pandang bulu, artinya setiap bawahan harus diperlakukan sama disiplinnya, spesialisasi tugas yang khusus, kerja yang ketat pada aturan (rule), sehingga kemudian bawahan menjadi kaku tetapi sederhana (zakelijk).
3.      gaya kebebasan
merupakan gaya dan irama seorang pemimpin pemerintahan dalam menghadapi bawahan dan masyarakatnya dengan memakai metode pemberian keleluasaan pada bawahan seluas-luasnya, metode ini dikenal juga dengan Laissez faire atau libelarism. Dalam gaya ini setiap bawahan bebas bersaing dalam berbagai strategi ekonomi, politik, hukum dan administrasi.
4.      gaya otokratis
adalah cara dan irama seorang pemimpin dalam menghadapi bawahan dan masyaraktnya dengan metode paksaan kekuasaan (coercive power)..

C.     VARIABEL KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
a)      variabel situasi dan kondisi pemerintahan
ada tujuh situasi dan kodisi yang menyebabkan pemimpin pemerintahan harus otokrasi atau demokrasi yaitu: faktor sifat dan bentuk negara, faktor geografis, faktor warga negara, faktor sejarah, faktor efisiensi dan efektivitas, faktor politik, faktor rezim yang berkuasa. Situasi dan kondisi dapat menentukan bagaimana seorang pemimpin pemeritahan seharusnya akan bertindak, bahkan pada situasi dan kondisis tertentu dapat melahirkan pemimpin.
b)      variabel orang banyak sebagai peganut
orang banyak yang dikenal sebagai rakyat jelata memang selama ini dikenal diam hanya saja jumlahnya sangat banyak, maksudnya bila terjadi demonstrasi , maka kemarahan orang banyak sulit dibendung dan bisa menggulingkan kekuasaan pemimpin yang tirani. Oleh karena itu masa di negara kita sekalipun musti dekanali, perlu dikenali tuntutannya, dikenali budaya sehari-harinya, dikenali seberapa kuat pengerahannya serta prediksi dampak positif serta ekses negatifnya.

c)      variabel penguasa sebagai pemimpin
pemimpin pemerintahan adalah penguasa tetapi perlu diingat bahwa bagaimanapun yang bersangkutan memiliki kekuasaan, namun tetap saja sebagai manusia mempunyai jiwa, jiwa itulah yang memiliki rasa seperti iba, kasih sayang, benci, dendam dan lain-lain.
D.    TEKNIK KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
ü      teknik persuasif dalam kepemimpinan pemerintahan
adalah strategi dalam pimpinan pemerintahan camat, bupati, gubernur, ataupu walikota membujuk bawahannya untuk bekerja lebih rajin. Bujukan dilakukan degan lunak dan lemah lembut.
ü      teknik komunikatif dalam kepemimpian pemerintahan
adalah strategi pemimpin dalam memperlancar pekerjaannya mencapai tujuan melakukan hubungan sesuai dengan kaidah ilmu komunikasi yaitu apa yang diiginkan oleh pemerintah sebagai jalan pemberi pesan sama dengan apa yang diterima bawahan dan masyarakat.
ü      teknik fasilitas dalam kepemimpina pemerintahan
adalah strategi pemimpin dalam memberikan fasilitas pada bawahan atau masyarakatnya untuk memperlancar pekerjaan karena bawahan dan masyarakat tersebut terikat oleh pemberian tersebut.
ü      teknik motivasi dalam kepemimpinan pemerintahan
adalah strategi pemimpin mendorong bawahan dan masyarakatnya bekerja serta membangun lebih rajin.
ü      teknik keteladanan dalam kepemimpian pemerintahan
adalah strategi pemimpin pemerintahan untuk memberikan contoh atau teladan yang baik kepada bawahannya maupun masyarakatnya sendiri.
E.     GAYA KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN INDONESIA DARI SEBELUM KEMERDEKAAN SAMPAI SETELAH MERDEKA.
Di masa penjajaha/sebelum merdeka, perlawanan bagsa Indonesia selalu gagal meskipun berkali-kali melakukan perlawanan. Hal yang menyebabkan gagalnya usaha Idonesia adalah pemimpin peperangan bergerak sendiri-sendiri, tidak bersatu dengan pemimpin dari berbagai kerajaan. Pemimpin lebih suka bergerak sendiri dan atas nama daerahnya. Kebanyakan pemimpin kerajaan mudah diadu domba satu sama lain.
Setelah merdeka dan dimasa presiden soekarno Dalam kepemimpinannya, Indonesia telah beberapa kali terjadi perubahan konstituante. Sistem pemerintahan juga berubah-ubah. Demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, dicoba tapi semua gagal. Bahkan Pacasila sebagai dasar negara diringkas menjadi Tri Sila, dan akhirnya menjadi Eka Sila. Ada semboyan yang digembar-gemborkan masa itu untuk menggantikan pancasila yaitu Nasakom (nasioal, agama, komunis). Campur tangan Belanda masih sangat kental. Pada masa ini banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh Presiden. Presiden Soekarno cenderung ke komunis yang akhirnya menyebabkan pergolakan besar di negeri ini. Puncaknya adalah pemberontakan G30 SPKI
Sedangkan dimasa Soeharto berkuasa di Indonesia selama 32 tahun. Gaya kepemimpinan beliau dianggap otokratis karena selama kepemimpiannya banyak sekali manipulasi, pengebirian DPR, korupsi dan semua perintah dan keinginannya selalu terpenuhi. Semua elemen dan lembaga negara tunduk dibawah kekuasaan beliau. Tidak ada yang berani mengkritik atau melawan karena bisa dihukum. Pada tiga dasawarsa, pembangunan yang dirancang beliau dinilai berhasil namun ada sebagian pihak yang mengatakan bahwa keberhasilan pembangunan itu bersifat semu dan kamuflase. Di dua tahun akhir kepemimpinannya mulai terjadi pergolakan yang menuntut beliau mundur. Akhirnya Soeharto berhasil dilengserkan pada tanggal Mei 1998.
Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri. Namun di masa kepemimpinan beliau, belum mampu membawa perubahan ke arah lebih baik. Pemerintahan Habibie memang tidak sama dengan Soeharto. Akan tetapi beliau mengucapkan bahwa beliau merupakan murid Soeharto. Karena ucapan tersebut, timbul pergolakan yang mengakibatkan Habibie tidak lama memerintah Indonesia
Dan kemudian dimasa kepemimpinan Abdurrahman Wahid , Megawati Soekarno Putri, dan susilo Bambang Yudhoyono , Ketiga tokoh itu adalah pemimpin yang mengemban tugas untuk meneruskan cita-cita reformasi. Masing-masing pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi ketiga pemimpin tersebut belum mampu mewujudkan cita-cita reformasi. Bahkan pada masa Megawati Soekarno Putri, Indonesia kehilangan dua pulau yang berharga bagi Indonesia yaitu Sipadan dan Ligitan. Susilo Bambang Yudhoyono dipandang juga belum mampu mengubah kondisi bangsa Indonesia yang sudah terpuruk ini. Beliau dipandang tidak kompak dengan wakilnya Jusuf Kalla. Bahkan kepemimpinan beliau amat bertolak belakang dengan wakilnya tersebut. SBY dipandang cukup hati-hati dalam memutuskan sesuatu, bertele-tele, kurang tegas dan greget. Sedangkan Jussuf Kalla tegas, langsung ke tujuan tanpa basa-basi, cepat mengambil keputusan dan tegas. Ini dikarenakan SBY berasal dari suku Jawa sedangkan Jussuf Kalla berasal dari Makassar dimana orang-orangnya terkenal tegas.
                        Khusus diindonesia sendiri gaya kepemimpinan dari setiap pemimpin pemerintah itu sendiri berbeda-beda. Namun, tujuan pemimpin tersebut tidak lepas demi kesejahtraan masyarakat, dengan tujuan mensejahtrakan masyarakat tersebut tak lepas dari peran bawahan maupun anggota-anggota lain.
Gaya dari seorang pemimpin lah yang mampu mengerakan tujuan melalui bantuan orang lain. Seorang pemimpin harus mampu menentukan tujuan, memotivasi karyawan maupun lembaga-lembaga dibawah naungan pemerintahan serta mampu mengerakan bawahan na untuk mencapai tujuan pemerintah.
Namun baik semua gaya dari seorang pemimpin dalam memimpin pemerintahan nya sendiri, tujuan utama dari tujuan pemerintah adalah terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar